ANTROPOLOGI HARI INI : CERITA- CERITA KECIL YANG BERMAKNA BESAR.
ANTROPOLOGI HARI INI : CERITA- CERITA KECIL YANG BERMAKNA BESAR.
Dosen Pengampu: Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom.
Universitas Mpu Tantular
(sumber gambar : kemenparekraf RI)
Antropologi tidak lepas dari manusia, masyarakat, individu atau kepribadian kita sendiri.
Hari ini saya mencoba menuangkan isi hati saya melalui blog ini. Bekerja sebagai seorang Barista dan kasir membuat saya seringkali menemui banyak orang dan banyak kepribadian yang berbeda-beda.
Seringkali mereka menyambut senyuman saya dengan senyuman, ataupun sapaan selamat datang saya dibalas dengan terimakasih. Ya, tidak dipungkiri magic word itu membuat saya atapun kami para pekerja di dunia service merasa senang dan dihargai.
Membuat kopi adalah keahlian saya, membuat customer puas adalah keinginan saya. Menjadi Barista tidak ada tuntutan apapun sejauh ini, saya bekerja dengan penuh kehati-hatian dan senyuman. Saya merasa kepuasan pelanggan mendatangkan suatu kebanggaan tersendiri untuk saya.
Hari ini ada satu scene yang membuat saya terharu dan tersentil. Beberapa customer datang mereka memesan seperti biasa nya. Tapi ada salah satu customer yang pertanyaan nya sedikit berbeda dari yang lain. Dia bertanya "bagaimana hari ini kak? " saya jawab dengan mantap "alhamdulillah, luar biasa baik dah sehat, bagaimana dengan ibu sendiri? " Dijawab nya dengan senyuman dan kata "saya sehat kok".
customer yang ini setia sekali datang, tidak pernah absen tersenyum tapi baru kali ini menanyakan kabar saya.
Pesanan nya seperti biasa saya buat, saya antarkan ke meja dia duduk. Saya pikir hari ini akan berjalan seperti biasa, seharusnya begitu.
Tapi ketika saya lihat si ibu menganggukkan kepala dan berkata "always enak, terimakasih" dan saya tersenyum. Kali ini lebih lebar.
Interaksi kami kecil tapi efeknya dahsyat.
Ucapan terimakasih itu seperti mantra penyelamat untuk saya.
Saya sadar membuat orang senang tidak harus dengan hal-hal fisik, tapi ucapan yang bisa dirasakan ketulusannya juga mampu memberikan efek kebahagiaan.
Jika antropologi mempelajari tentang sifat manusia dan mampu memahami bagaimana manusia sebagai makhluk sosial dalam berinteraksi dengan lingkungan, alam ataupun manusia lainnya.
Maka saya pikir hal-hal yang saya lakukan setiap hari ataupun yang kita lakukan sehari-hari ini tidak jauh dengan antropologi.
Saya berusaha memahami seperti apa customer yang saya temui, dan mereka juga berusaha memahami cara kerja saya.
Proses kita menjalani kehidupan sehari-hari tidak lepas dari karakteristik antropologi itu sendiri. Manusia memahami sifat manusia lain, dan kita tidak sama dengan individu lain karena bawaan sifat setiap manusia itu berbeda.
Saya percaya setiap langkah akan membawa perubahan, meskipun dari hal-hal kecil kecil.
Contohnya seperti senyuman customer, dan Magic word yang terlihat sederhana tapi mampu menggetarkan hati, untuk tetap rendah hati dan percaya bahwa tindakan kita tidak salah.
Penjelasan tambahan, mungkin teman-teman bisa mengecek kembali tentang antropologi yang mempelajari sifat manusia. Yaitu Antropologi Psikologis, Cabang antropologi ini bersifat interdisipliner dan menggabungkan ilmu psikologi dan antropologi untuk memahami bagaimana kebudayaan membentuk proses mental manusia. Ia mempelajari bagaimana pengalaman, nilai, dan keyakinan budaya memengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan bertindak.
Antropologi psikologis membantu kita memahami bagaimana pikiran dan perasaan manusia dipengaruhi oleh budaya, sementara antropologi budaya membantu kita memahami bagaimana kebudayaan membentuk perilaku dan sifat manusia secara keseluruhan.
Antropologi dan psikologis saling beririsan dalam hal mempelajari manusia. Psikologi lebih berfokus pada manusia secara internal, sementara antropologi menekankan kepada aspek-aspek eksternal yang mempengaruhi manusia.
Seorang psikolog harus menyelidiki unsur-unsur eksternal yang mempengaruhi sifat dan karakter seorang manusia, sedangkan seorang antropolog harus mempelajari interaksi yang terjadi antara manusia yang satu dengan manusia lainnya yang membentuk pola-pola kebudayaan.
Referensi :
1.Wikipedia dan
2.Liputan 6
Komentar