KEBUDAYAAN : TARIAN CAKALELE SEBAGAI SIMBOL KEBERANIAN NYONG DARI TIMUR.
Nama : Nur Wahyuni Tuasamu
Dosen Pengampu: Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom.
Universitas Mpu Tantular
TARIAN CAKALELE SEBAGAI SIMBOL KEBERANIAN NYONG DARI TIMUR.
Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya nya baik dari sabang sampai merauke.Menurut Wikipedia tarian di Indonesia terdiri dari 3.000 tarian.
Akan tetapi Khusus blog hari ini saya akan menjelaskan tarian yang berasal dari tanah kelahiran saya, yaitu Tarian Cakalele.
Cakalele,semua orang tau darimana nama itu berasal.Besar di Maluku dan menjadi tarian kebanggaan masyarakat Maluku. Tarian ini merupakan tarian perang tradisional yang digunakan dalam berbagai acara, seperti menyambut tamu atau perayaan adat.
Makna tarian Cakalele adalah mengandung nilai ketuhanan dan simbol keagamaan. Ini terlihat dengan adanya ritual yang harus
dilakukan oleh penari selama tarian
tersebut dilangsungkan. terdapat pula tiga pesan yang tersirat dalam tarian Cakalele yakni:
1.Mengatur hubungan yang baik dengan Tuhan
2.Mengatur hubungan alam dan manusia
3.Mengatur hubungan manusia dengan manusia yanglain.
Tari Cakalele juga memiliki makna sebagai cara manusia menjaga martabat dan harga dirinya. Saat tarian diperagakan, setiap penari akan bergerak dengan bersemangat, diikuti dengan mata melotot, melompat berteriak-teriak banyak penonton mengatakan bahwa penari itu kesurupan, namun sebenarnya mereka hanya mengekspresikan aura peran yang memang seharusnya ditampilkan, diikuti dengan iringan musik yang ritmis guna melengkapi keharmonisan alunan musik.
Beberapa alat musik tersebut
antara lain: Gong, tifa dan suling bambu semua alat musik dimainkan dengan tempo dan ritme yang cepat, sehingga memberikan gerakan yang bersemangat kepada penari.
Iringan musik yang memiliki tempo cepat juga dimaksudkan untuk membuat suasana menjadi lebih meriah. Penari pria umumnya menggunakan kostum warna yang dimiliki busana tersebut juga kontras, yakni merah dan kuning tua. Kain merah yang diikatkan
pada kepala selempang pada celana namun karena adanya perkembangan zaman ada beberapa perubahan pada busana tarian Cakalele khususnya laki-laki yaitu terletak pada kelengkapan kostum. Pada zaman dulu busana yang dipakai oleh pria bertelanjang dada hanya diselempangkan kain saja namun sekarang ada yang memakai kain seperti baju biasa.
Sedangkan untuk penari wanita,mereka mengenakan pakaian adat berwarna putih dengan kain panjang sebagai bawahan.
Tarian Cakalele ini dahulunya dilakukan secara berpasang-pasangan, yaitu laki-laki dan perempuan, tapi kini sudah sanggat langka ditemukan menari berpasang-pasangan kini yang sering dijumpai hanyalah para kaum lelaki saja, sementara kaum perempuan tidak lagi dilibatkan.
Demikian pula halnya dengan peralatan musik pengiring yang digunakan dalam tarian Cakalele saat ini telah mengalami perubahan, dahulunya orang-orang yang memegang alat musik berupa tifa, gong dan suling bambu ada dalam arena pertunjukan, tapi kini telah berubah orang-orang yang memegang alat musik tradisional tersebut kini digantikan dengan alat musik elekton saja. Sebab dalam pertunjukan seni, kehadiran para pemegang alat-alat musik tersebut, selain bisa
menambah daya pikat, daya pesona dan wibawa pertunjukan secara keseluruhan, dan juga para pemegang alat-alat musik tersebut
bisa pula mewariskan kepada anak,cucu dan handai tolan yang memang memiliki minat dalam berkesenian, khususnya pada alat-
alat musik tradisional bangsa Indonesia. Mempertahankan kebudayaan leluhur yang sudah ada.
Cakalele secara etimologi dalam bahasa Ternate, terdiri atas dua suku kata, yaitu “Caka” (setan/roh jahat) dan “Lele” (mengamuk). Hingga saat ini masyarakat Ternate masih menggunakan istilah Caka untuk menyebut roh jahat, istilah serupa adalah “Suwanggi“. Jadi, pengertian kata Cakalele secara harfiah berarti “setan/ roh mengamuk”.Bila jiwa seseorang telah dirasuki syaitan/roh, maka ia tidak takut kepada siapa pun yang dihadapi dan ia telah haus akan darah manusia. atraksi Cakalele di dalam peperangan ataupun uji coba ketahanan jiwa raga seseorang dalam, berbeda dengan Cakalele yang sekedar ditampilkan pada upacara resmi lain.
Tarian ini mungkin terlihat menyeramkan bagi beberapa orang, tetapi makna dari gerakan ini menunjukkan keberanian dan kesiapan nyong timur (laki laki dari timur) dalam menghadapi perang. Alasan nya disebut sebagai tarian perang karena penari nya membawa parang(pedang) sebagai aksesoris nya.
Tarian ini identik sebagai makna simbolik saat ada upacara adat atau menyambut tamu yang datang, jadi tidak usah takut apabila ada salah satu penari yang kami yakini dirasuki roh nenek moyang atau orang Maluku biasa bilang "takana" itu artinya roh nenek moyang itu menyambut baik dan hanya ikut memeriahkan.
Terlihat mistis tapi sebenernya magis, karena walaupun penari melakukan adegan memotong tangan sendiri atau lidah mereka, itu tetap tidak mengeluarkan darah ataupun menimbulkan luka.
Tari Cakalele adalah salah satu warisan budaya masyarakat Maluku yang harus terus dijaga dan diteruskan keberadaan oleh nyong timur Maluku.
Budaya tidak akan hilang oleh masa
Karena rasa nya kian bertambah setiap masa
Salam hangat kebudayaan Indonesia
Katong samua basudara.
Referensi :
1.e- journal unsrat :https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/holistik/article/download/41561/36953
2.Wikipedia
Komentar