MUSIK KPOP MEMBAWA DAMPAK PERGESERAN SOSIAL DAN BUDAYA DI MASYARAKAT ERA GEN-Z
MUSIK KPOP MEMBAWA DAMPAK PERGESERAN SOSIAL DAN BUDAYA DI MASYARAKAT ERA GEN-Z
Nama : Nur Wahyuni Tuasamu
Dosen Pengampu: Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom.
Universitas Mpu Tantular
(Sumber :pinterest)
Musik pop Korea, atau kpop tidak bisa diragukan lagi popularitas nya pada saat ini. Seperti yang kita ketahui musik kpop mulai dikenal saat memasuki gen 2 atau sekitar tahun 2010.Tapi puncak dari kebesaran musik kpop hadir setelah gen 3 muncul seperti EXO, BTS, BLACKPINK, TWICE, RED VELVET, SEVENTEEN, WANNA ONE dan masih banyak lagi. Ini membuktikan bahwa dari masa ke masa musik kpop bisa membawa nama nya untuk tetap dikenal bahkan secara lebih luas hingga mendunia.
Saat ini kita banyak melihat konser-konser kpop di Indonesia khusus di kota besar seperti jakarta.Ramai nya peminat musik kpop ini membuat banyak promotor berlomba-lomba untuk mengenalkan jasa mereka sebagai penyedia konser.
Tapi dibalik sukses nya musik kpop, kita seolah-olah lupa dengan budaya sendiri. Tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena memang manusia hidup mengikuti arus zaman.
Tapi sadarkah kamu? bahwasanya sekarang banyak sekali hal-hal yang dikait-kaitkan dengan kpop ataupun negeri ginseng tersebut.
Contoh nyatanya adalah, gaya berpakaian dan make up yang mengikuti Idol Korea, lalu marak nya UMKM yang membuka usaha street food dengan mengusung tema Korea dan nama yang menggunakan bahasa Korea.
Banyak nya usaha dalam negeri yang mengambil Idol Korea sebagai brand ambassador. Hal ini membuat sistem perekonomian dalam masyarakat terus mengikuti hal-hal yang dicontoh dari negeri orang. Kurang nya pemakaian barang dan pangan dalam negeri membuat orang-orang lupa dengan keunggulan tanah air sendiri.
Masyarakat seolah-olah lupa dengan kebiasaan-kebiasan dan aturan norma-norma yang berlaku di Indonesia. K-Pop membawa berbagai unsur budaya Korea — seperti bahasa, gaya berpakaian, makanan, skincare, nilai kerja keras — yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat luar, termasuk generasi Z di Indonesia. Ini menunjukkan adanya proses penerimaan unsur budaya asing yang melebur dalam budaya setempat, tanpa harus menghilangkan identitas asli.
Contoh:
1.Anak muda Indonesia mulai memakai istilah Korea seperti "oppa", "aegyo", atau "saranghae" dalam komunikasi sehari-hari.
2.Banyak remaja mengadopsi gaya berpakaian K-idol, tapi tetap menggabungkannya dengan nuansa lokal.
3.Budaya streaming musik dan membuat fanbase juga menjadi bagian dari kehidupan sosial Gen-Z di Indonesia
Karena integrasi ini, terciptalah budaya baru hasil perpaduan budaya lokal dan Korea. Ini disebut kebudayaan hibrida, misalnya komunitas dance cover K-Pop di Indonesia yang menampilkan tarian Korea dengan sentuhan lokal (lagu remix, busana daerah, atau lokasi khas Indonesia).
K-Pop juga membawa nilai-nilai budaya Korea, seperti kerja keras, disiplin tinggi, dan semangat pantang menyerah. Banyak anak muda yang menjadikan idol K-Pop sebagai inspirasi hidup. Namun, di sisi lain, hal ini juga dapat menimbulkan tekanan karena standar kecantikan dan pencapaian yang ditampilkan sering kali tidak realistis.
Dulu, generasi muda lebih banyak mengonsumsi budaya lokal seperti musik pop Indonesia atau sinetron. Kini, banyak dari mereka justru lebih tertarik pada musik K-Pop, drama Korea, dan konten Hallyu lainnya. Hal ini menunjukkan pergeseran selera budaya, dari konsumsi lokal ke arah budaya global.
K-Pop bukan sekadar tren musik; ia adalah kekuatan budaya yang menggerakkan perubahan sosial. Dalam konteks Gen-Z, K-Pop mencerminkan pergeseran nilai, identitas, dan cara hidup — menjadi bukti bahwa budaya populer mampu mengubah arah masyarakat secara nyata.
Contoh kasus :
• Terlalu fanatik terhadap Idol membuat fans kpop war di sosial media .
Dalam contoh kasus ini saya mengambil kejadian dari fans BTS DAN EXO yang sering melakukan war atau saling menghina saat membanggakan fans mereka. Membuat fans kpop dinilai fanatik dan terkesan Cyber bullying terhadap orang lain melalui sosial media. Hal ini ditakutkan akan menimbulkan perpecahan di masyarakat Indonesia.
Menyukai sesuatu itu boleh asal tidak berlebihan. Terkadang umpatan dan cacian yang keluar dari ketikan kita seringkali membuat orang sakit hati dan mempunyai trauma untuk bertemu orang banyak.
Bahkan yang paling parah dari fans fanatik adalah menjadi sasaeng(orang yang menguntit) Idol k-pop sampai hampir ingin mencelakai hanya karena ingin memiliki mereka seutuhnya.
Musik K-Pop telah menjadi fenomena global yang membawa perubahan signifikan dalam aspek sosial dan budaya, khususnya di kalangan generasi Z. Kehadirannya tidak hanya mengubah selera musik, tetapi juga memengaruhi gaya hidup, nilai-nilai, bahasa, dan pola interaksi sosial. Pergeseran ini terlihat jelas dari bagaimana generasi muda mengadopsi gaya berpakaian ala idol K-Pop, tren kecantikan Korea, hingga pola komunikasi yang memasukkan istilah-istilah Korea dalam keseharian mereka.
Selain itu, K-Pop juga membawa perubahan dalam identitas budaya, di mana banyak Gen-Z mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari komunitas global fandom yang melampaui batas negara dan budaya lokal. Interaksi sosial yang sebelumnya bersifat tatap muka kini banyak terjadi di ruang digital melalui media sosial dan komunitas daring, memperkuat solidaritas lintas negara dan kelompok sosial.
Dampak K-Pop juga terlihat dalam pergeseran nilai dan aspirasi, di mana semangat kerja keras, disiplin, dan self-love yang dibawa oleh para idol menjadi inspirasi bagi banyak anak muda. Namun, hal ini juga membawa tantangan seperti tekanan untuk mencapai standar kecantikan dan prestasi yang tinggi.
Fenomena ini menggambarkan bagaimana budaya populer, melalui media dan teknologi, dapat menjadi agen perubahan sosial dan budaya yang kuat. Meskipun K-Pop membawa banyak nilai positif, penting bagi generasi muda untuk tetap menjaga kesadaran dan keseimbangan dengan budaya lokal agar identitas dan warisan budaya bangsa tetap terjaga dalam era globalisasi yang dinamis ini.
Referensi : kompasiana.com
https://www.kompasiana.com/amp/intantiaradewi3831/6579cc7c12d50f12dc14a5c2/kpop-fenomena-budaya-global-yang-mendunia
Komentar