ANALISIS FILM GOWOK KAMASUTRA JAWA DALAM PERSPEKTIF BUDAYA, ETIKA, SOSIAL DAN AGAMA.

ANALISIS FILM GOWOK KAMASUTRA JAWA DALAM PERSPEKTIF BUDAYA, ETIKA, SOSIAL DAN AGAMA. 

Nur Wahyuni Tuasamu 
243300020027
Fakultas Hukum
Universitas Mpu Tantular


    ‘Gowok’ berasal dari bahasa Jawa tapi tahukah kamu bahwa sebenernya gowok sendiri adalah peninggalan dari adat Tionghoa yang kemudian diteruskan oleh masyarakat Jawa pada tahun 1990 khususnya di daerah Surakarta. Gowok sendiri hadir pada masa itu untuk mengajarkan cara berhubungan seksual kepada pria bangsawan atau anak laki-laki keturunan bangsawan jawa sebelum mereka dinikahkan. 
      Bersamaan dengan itu, dikenal pula istilah “Kamasutra Jawa”, sebagai ajaran spiritual dan sensual yang mengajarkan harmoni dalam hubungan suami-istri. Keduanya mencerminkan suatu cara pandang terhadap seksualitas yang sangat berbeda dengan norma-norma kontemporer. 
       Dalam konteks budaya Jawa, gowok merujuk pada seorang perempuan dewasa yang memberikan pendidikan seks dan persiapan pernikahan kepada remaja laki-laki, khususnya calon pengantin pria. Tradisi ini dikenal dengan istilah gowokan. Gowok biasanya berusia antara 23 hingga 30 tahun dan dianggap memiliki pengetahuan serta pengalaman yang cukup untuk membimbing remaja laki-laki dalam aspek-aspek kehidupan rumah tangga dan hubungan suami-istri. 
        Lebih detailnya, gowok bukan hanya sekadar memberikan pendidikan seks, tetapi juga berperan sebagai mentor yang membentuk karakter dan kesiapan mental, emosional, serta fisik laki-laki muda sebelum memasuki kehidupan pernikahan. Praktik gowokan ini bersifat privat dan intensif, bertujuan agar pria tersebut siap secara mental dan emosional untuk membina rumah tangga yang harmonis.  
       Film Gowok: Kamasutra Jawa berlatar belakang di era 1990-an dan berfokus pada kisah seorang perempuan bernama Ratri. Dalam kebudayaan Jawa, seorang gowok adalah dukun perempuan yang memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan seksual kepada pemuda yang belum menikah. Ratri, sebagai murid dari gowok legendaris Nyai Santi, tiba-tiba menemukan dirinya dalam sebuah hubungan cinta yang rumit dengan seorang pemuda bernama Jaya.
    Ratri dan Jaya saling jatuh cinta, dan Jaya berjanji untuk menikahi Ratri. Namun, hubungan mereka terganggu ketika Nyai Santi mengetahui keterikatan tersebut. Nyai Santi mempercayai bahwa Jaya, sebagai seorang anak bangsawan, tidak akan bisa memenuhi janjinya kepada Ratri. Keputusan Nyai Santi memisahkan mereka adalah langkah yang merusak impian Ratri.
      Setelah waktu berlalu, Ratri tumbuh dewasa dan mengambil alih posisi gowok sebagai Nyai Ratri. Dalam perannya yang baru, dia ditugaskan untuk mengajarkan filsafat cinta dan hubungan rumah tangga kepada Bagas, anak Jaya. Namun, interaksi yang seharusnya mendidik ini berkembang menjadi sesuatu yang lebih rumit dan berpotensi menghancurkan hidupnya.

       Jika dilihat dari sinopsis singkat film tersebut, kita bisa menganalisis nya dari segi perspektif budaya, etika, sosial dan agama. Tentu saja tradisi gowok ini memiliki pro dan kontra bila dilihat dari keempat perspektif berikut. 

 Analisis film gowok kamasutra Jawa :
1.Berdasarkan Perspektif Budaya. 
       Secara budaya, gowok bukan sekadar praktik hubungan seksual melaikan bentuk edukasi seksual dan spritual yang bersifat simbolis. Dalam tradisi masyarakat jawa,khusus pada jawa tradisional di tahun 1990,kalangan aristokrat atau keraton, pendidikan mengenai tubuh, batin dan relasi antar gender dianggap penting dalam pembentukan jati diri seorang pria dewasa. Kamasutra Jawa yang sering disalahartikan sebagai ajaran erotisme semata, sejatinya mengajarkan keseimbangan batin, pengendalian nafsu dan spiritualitas dalam hubungan seksual. Tapi di zaman sekarang ini gowok sudah tidak ada lagi atau mungkin sedikit, menurut saya karena kecepatan informasi digitalisasi memudahkan masyarakat untuk berkonsultasi dengan seorang dokter atau psikolog dengan alat medis mereka yang canggih alih-alih diserahkan ke gowok. Bukan berarti tradisi harus hilang begitu saja, tradisi akan terus ada dan dikenang tetapi tradisi gowok tidak bisa se leluasa dulu karena sekarang ada aturan dan norma yang berlaku. 

2.Berdasarkan Perspektif Etika. 
         Namun, dari sudut pandang etika praktek gowok menimbulkan banyak pertanyaan. Jika dilihat dari standar etika modern yang menekankan persetujuan bebas, kesetaraan gender, perlindungan terhadap kaum muda, praktik ini menjadi problematika. Relasi kuasa antara pemuda dan perempuan dewasa dapat membuka ruang eksploitasi. Meskipun dalam konteks masalalu praktik dianggap dah secara adat, kini etika publik mengharuskan peninjauan ulang terhadap warisan budaya yang mengandung risiko pelanggaran hak individu. Kita hidup di zaman hukum dan norma berlaku bagi siapa saja , menurut saya gowok di era sekarang memang harus dihilangkan walaupun tujuan nya untuk keutuhan rumah tangga akan tetapi akan menimbulkan problematika disaat yang akan datang seperti endingnya film gowok kamasutra Jawa. Etika seperti kunci untuk orang-orang bisa maju terus atau mundur dari segala sesuatu yang ingin dilakukan nya apabila itu berkaitan dengan tingkah laku dan penilaian orang sekitar , begitupun orang yang masih menggunakan gowok jika ada di era sekarang akan menimbulkan pertanyaan yang sama juga. 

3.Berdasarkan Perspektif Sosial
         Dalam ranah sosial, praktik gowok merefleksikan struktur masyarakat patriarki, dimana laki-laki dipersiapkan untuk menjadi penguasa relasi seksual, dan perempuan menjadi pendidik sekaligus objek. Hal ini memperlihatkan bagaimana, seksualitas dan pendidikan tubuh diatur secara sosial untuk memenuhi harapan kelas atau status tertentu. Di era modern, sistem sosial telah dirubah menuju kesetaraan dan kebebasan individu, hingga tradisi semacam ini semakin sulit diterima oleh masyarakat luas. Perubahan cara pandang masyarakat terhadap seksualitas, peran gender, dan hak individu menjadi praktik semacam gowok kehilangan tempat nya dalam tatanan sosial kontemporer. Menurut saya pandangan sosial sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Orang-orang mungkin akan memberikan sanksi sosial apabila ada pasangan belum menikah yang tinggal satu atap dan melakukan adegan intim lebih dari semestinya. 

4. Berdasarkan Perspektif Agama
        Agama, terutama islam yang menjadi keyakinan mayoritas masyarakat jawa memandang praktik gowok sebagai bentuk yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan spiritualitas IsIam. Dalam ajaran islam, pendidikan seksual hanya diperbolehkan dalam koridor pernikahan yang sah, serta menjujung tinggi kehormatan diri dan pasangan. Oleh karena itulah, praktik gowok dipandang sebagai bentuk penyimpangan dari norma agama karena membuka ruang bagi perzinahan dan pelanggaran batas syari'ah. Meskipun demikian, sebagian nilai spiritual yang terkandung dalam kamasutra Jawa, seperti penting nya kasih sayang, pengendalian nafsu, dan saling menghormati, dapat di sinergikan dengan prinsip-prinsip islam ditafsirkan secara bijak. 
         

Kesimpulan :
   Gowok dan Kamasutra Jawa adalah cermin dari sistem nilai dan pandangan hidup masyarakat Jawa di masa lalu yang sarat dengan simbolisme, spiritualitas, dan pendidikan sensualitas. Namun, dalam kerangka etika, sosial, dan agama masa kini, praktik tersebut menimbulkan kontroversi dan tidak lagi relevan untuk dipraktikkan secara literal. Meskipun demikian, kajian terhadap praktik ini tetap penting dalam memahami dinamika budaya dan bagaimana sebuah masyarakat mengonstruksi pemahaman tentang seksualitas, pendidikan, dan relasi gender. Alih-alih menghidupkan kembali praktik ini, generasi sekarang dapat mengambil sisi positif berupa pentingnya pendidikan seksual yang sehat, bermartabat, dan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.








Referensi : film gowok kamasutra jawa by hanung bramantyo (5 juni 2005) . 
                 narasitv. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBUDAYAAN : TARIAN CAKALELE SEBAGAI SIMBOL KEBERANIAN NYONG DARI TIMUR.

ANTROPOLOGI EKONOMI : PERAN EKONOMI MENOPANG MASYARAKAT DALAM KEBUTUHAN NYA.

INOVASI PEMBAURAN BAHASA JIKA DILIHAT DARI PERSPEKTIF ASIMILASI,DIFUSI DAN AKULTURASI